Bantengan Apa Benar Kesurupan? Mengenal Lebih Dekat Kesenian Tari Warisan Budaya Malang

- 29 Mei 2024, 08:00 WIB
Kesenian tarian bantengan Malang semakin ramai dengan tabuhan dan pemain yang kesurupan.
Kesenian tarian bantengan Malang semakin ramai dengan tabuhan dan pemain yang kesurupan. /YouTube/@DIGARchannel/

MalangTerkini.com – Kota Malang sebagai tempat budaya, memiliki kesenian bantengan yang akhir-akhir ini semakin populer. Kesenian memadukan unsur tari, musik, dan ritual spiritual ini semakin menegangkan jika para pemainnya satu persatu mengalami kesurupan.

Kesenian Bantengan Malang selain menghibur juga penuh makna simbolis, perwujudan sering dikaitkan dengan ritual tertentu yang bertujuan untuk mengusir roh jahat atau sebagai bagian dari ritual adat. Kehadiran unsur mistis tersebut menjadikan kesenian ini sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Seni bantengan terus beradaptasi dan berkembang tanpa meninggalkan akarnya, pertunjukan yang menampilkan penari yang mengenakan banteng dari anyaman bambu yang dihiasi ornamen tradisional Jawa. Tarian Jawa yang menirukan banteng, kesenian ini berkembang di tiga wilayah Jawa Timur Mojokerto, Malang dan Batu.

Baca Juga: Bantengan Akan Diatur Tata Caranya, Pemkab Malang Anggarkan Rp4 Miliar Buat Seni dan Budaya

Banyak kelompok seni yang berupaya melestarikan dan memperkenalkan banteng kepada generasi muda melalui berbagai festival dan pertunjukan. Upaya ini sangat penting untuk memastikan bahwa warisan budaya yang berharga ini tetap hidup dan dikenal luas, baik secara lokal maupun nasional.

Kesenian Bantengan di Kota Malang

Bantengan merupakan seni tari rakyat tradisional mulai berkembang pesat pada tahun 1960an. Bantengan bermula dari kesenian kebo-keboan Ponorogo.

Saat itu, seorang pesilat asal Madiun datang ke Ponorogo untuk melihat pertunjukan seni kebo-keboan. Kesenian ini konon mampu mengusir bala dan menyelamatkan Raja Surakarta Paku Buwono II dari berbagai serangan pemberontakan keraton.

Para pendekar silat dari pegunungan daerah Mojokerto, Malang dan Batu kemudian terinspirasi untuk menciptakan kesenian serupa dengan menggunakan bentuk banteng. Kesenian tradisional Bantengan sebenarnya di daerah Malang sendiri sudah ada lahir sejak jaman kerajaan Singasari, dapat dilihat dari situs Candi Jago yang ada di Tumpang.

Kesenian ini berkaitan erat dengan pencak silat, salah satu olahraga tradisional, yang di masa itu masih menggunakan topeng kepala bantengan yang enari. Gerakan tariannya mengadopsi dari gerak Kembangan pencak silat yang terus berlanjut di masa pemerintahan kolonial Belanda.

Halaman:

Editor: Ratna Dwi Mayasari


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah